Rabu, 30 September 2009

DITANGGAPI BERAGAM REAKSI

Pemakaian Batik di RSI SA

Pencanangan hari BATIK sebagai budaya bangsa Indonesia oleh UNESCO-PBB pada tanggal disambut dengan himbauan pemakaian batik oleh karyawan RSI Sultan Agung Semarang (RSI SA). Himbauan tersebut tercantum dalam edaran no 366/K/RSI -SA/IX/2009. Dalam edaran yang disampaikan oleh pak Rosyidi-- karyawan bagian personalia RSI SA, seluruh karyawan RSI SA terutama non medis diharuskan untuk menggunakan baju Batik.
Akibat himbauan ini, sejumlah karyawan RSI SA , merasa bingung dengan anjuran pemakaian batik karena ada yang punyabaju batik di rumah dan ada yang sama sekali tidak punya. Bagi yang tidak punya baju batik , mereka lebih mengandalkan saudara atau orang tua yang mempunyai batik. Dengan meminjam mereka pun tak perlu keluar uang untuk memakai batik. Ada juga dari beberapa karyawan yang mempunyai rencana untuk membeli batik di beberapa tempat terdekat misalnya di pasar johar dan sebagainya.Walaupun tidak punya batik, mereka tetap bersemangat untuk menyambut batik sebagai Budaya Bangsa Indonesia.
Bagi karyawan non medis, pemakain batik sebagai seragam barangkali tidak dipermasalahkan, akan tetapi bagaimana dengan para karyawan yang berada di UGD ? Yang barangkali setiap hari bersentuhan dengan darah ? Apakah tetap menggunakan seragam batik ?Bagaimana jika menggunakan batik tetapi terkena percikan darah ? Oleh karena itu, banyak rekan-rekan perawat RSI SA yang tetap menggunakan seragam perawat. Bagi mereka pemakaian batik atau tidak tetap tidak akan menghalangi semangat untuk selalu bekerja dan beribadah di RSI SA.

0 komentar: